Jalan Panjang Diskriminasi ODHA

Jalan Panjang Diskriminasi ODHA
Oleh : Busrizal
Sosiologi UB 2015

Diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV/AIDS atau yang lebih sering kita dengar sebagai ODHA masih banyak terjadi dikalangan masyarakat. Persebaran ODHA yang ditemukan hampir di banyak wilayah Indonesia menjadikan diskrimasi ini dapat dijumpai di banyak tempat. Pada 2017 jumlah ODHA di Inonesia yang teridentifikasi sebanyak 620 ribu orang (Birra, 2017). Ini artinya, diskriminasi ODHA masih sangat mungkin terjadi dimana pun selama ada ODHA di kota atau wilayah tersebut. Angka yang cukup tinggi tentu menjadi sebuah ironi dalam masalah kesehatan di Inonesia. Namun, ironi ini berkaitan dengan penyakitnya bukan pada orang yang menderita HIV/AIDS. Kesalahan persepsi di dalam masyarakat tentang HIV/AIDS membuat ODHA semakin tersudutkan posisinya di tengah masyarakat.
Pada dasarnya diskriminasi adalah perbedaan perlakuan. Diskriminasi adalah perlakuan yang tidak adil dan tidak seimbang yang dilakukan untuk membedakan terhadap perorangan, atau kelompok, berdasarkan sesuatu, biasanya kategorikal, atau atribut-atribut khas seperti ras, kebangsaan, agama, ataukeanggotaan kelas-kelas sosial (Putri, 2017). Di Indonesia diskriminasi terhadap ODHA tidak hanya sebatas perilaku, tetapi diskriminasi ini telah sampai pada kekerasan verbal yang akhirnya menyudutkan para ODHA. Sehingga para penderita AIDS yang pada hakikatnya seorang korban atau dapat diposisikan seorang pasien yang butuh untuk diobati justru dikucilkan dalam lingkungannya sendiri. Diskriminasi ini berujung pada penarikan diri dari lingkungan sosialnya. Jika boleh meneruskan akibat dari hal ini, akan terjadi blooming penyakit HIV/AIDS yang tidak dapat terkontrol penyebarannya. Selanjutnya dapat dibayangkan, akan banyak ODHA yang tidak tau bagaimana mata rantai peyebaran HIV/AIDS bisa sampai pada diri mereka. Bahkan hal ini bisa terus berlanjut sampai generasi-generasi berikutnya.
Hari ini, diskriminasi ODHA mencakup hal yang kompleks. Mulai dari minimnya akses dalam ranah ekonomi, politik, dan sosial budaya di lingkungan masyarakat hingga terputusnya akses pendidikan terhadap ODHA. Rentetan hal yang panjang tersebut dipicu atau berawal pada stigma negatif terkait ODHA yang masih cukup tinggi. Masyarakat yang masih berstigma bahwa HIV/AIDS sebagai sebuah penyakit kutukan karena hubungan seksual pra nikah dan homoseksual membuat diskriminasi terhadap ODHA di tengah masyarakat tidak kunjung membaik. Bahkan dalam hal pelayanan kesehatan yang menangani HIV/AIDS, masih terdapat perbedaan kualitas dalam melayani orang-orang tersebut. Stigma dan diskriminasi terhadap ODHA, membuat mereka tertekan secara psokologis, membuat mereka tidak percaya diri serta semakin menutup diri terhadap status mereka sebagai ODHA.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh (Shaluhiyah, Mustofa, & Widjanarko, 2015) menjelaskan bahwa stigma terhadap ODHA masih banyak terjadi di masyarakat terlihat dari hasil penelitian yang menunjukan hampir separuh responden (49,7%) memiliki sikap negatif terhadap ODHA. Dari penlitian tersebut, dapat kita simpulkan masih tingginya sikap negatif yang diberikan masyarakat terhadap ODHA. Hal ini memberikan dampak yang sangat buruk bagi penanggulangan HIV/AIDS di masayarakat dan membuat diskriminasi terus meningkat apabila persepsi negatif terhadap ODHA tidak bisa dituntaskan. Stigma yang dibangun terhadap ODHA di masyarakat berupa pengucilan dan pembatasan akses di semua bidang termasuk kesehatan. ODHA pada masyarakat dianggap sebagai orang yang melanggar aturan dan memiliki perilaku yang menyimpang. Konstruksi stigma negatif ini dalam masyarakat seakan menjadi sebuah hukum dimasyarakat ketika melihat adanya kasus HIV/AIDS di lingkungan mereka.
Berdasarkan wawancara penulis dengan salah seorang ODHA di Universitas Brawijaya pada bulan Mei 2017, mereka mengatakan banyak sekali diskriminasi yang mereka peroleh di masyarakat ketika tau tentang statusnya sebagai ODHA.Bentuk diskriminasi yang pertama, dalam lingkungan keluarga mereka mendapat penilaian sangat buruk sebagai orang yang sering melakukan hubungan seksual diluar pernikahan. Dalam lingkungan keluarga, mereka juga mengalami diskriminasi. Mulai dari pemisahan tempat makan, tempat tidur, dan peralatan mandi. Seolah-olah HIV menjadi virus yang bisa menyebar ketika adanya kontak melalui hal seperti itu. Keluarga mereka seakan malu dengan status ODHA yang mereka miliki ketika berhadapan dengan masyarakat. Selanjutnya dalam masyarakat mereka mendapat perlakukan yang tidak menyenangkan ketika tau bahwa mereka pengidap HIV/AIDS. Adanya ketakutan masyarakat terhadap penyakit HIV/AIDS menyebabkan terputusnya komunikasi karena takut tertular. Terakhir, dalam akses kesehatan. Mereka lagi-lagi mendapatkan pembatasan pelayanan dan diskriminasi dari tenaga medis, misalnya perawat yang tidak mau bersalaman dengan ODHA tersebut.
Stigma terhadap ODHA yang ada dikalangan masyarakat saat ini erat kaitannya dengan pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS. Anggapan yang masih tabu terhadap ODHA tanpa diimbangi dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS membuat diskriminasi terus terjadi kepada ODHA. HIV/AIDS yang dianggap sebagai penyakit kutukan, penderita yang dianggap sebagai orang yang melanggar aturan dan memiliki aturan menyimpang adalah sebuah anggapan yang keliru yang mengakibatkan stigma terhadap ODHA. Angapan-anggapan seperti itu tidak sepenuhnya benar karena HIV/AIDS tidak hanya didapatkan oleh orang-orang yang menyimpang melainkan juga bisa didapatkan oleh bayi yang baru lahir ataupun istri yang mendapatkan HIV/AIDS dari suaminya begitupun sebaliknya. Penularan HIV/AIDS sebenarnya tidak semudah yang diasumsikan masyarakat. Seperti penularan melalui tempat makan, tempat tidur, peralatan mandi, bahkan berciuman. Padahal penularan HIV/AIDS yang benar yaitu melalui sperma, transfusi darah, jarum suntik yang tidak steril, dan ASI.
ODHA bukanlah orang yang harus dijauhi, mereka memiliki hak yang sama dengan orang normal dalam mengakses ekonomi, politik, hukum, dan sosial budaya. Ketakutan-ketakutan yang tumbuh di masyarakat mengenai HIV/AIDS merupakan pemahaman yang sangat keliru. Pengetahuan masyarakat harus benar-benar ditingkatkan agar dapat memahami sebenarnya bagaimana HIV/AIDS itu dapat menular sehingga, masyarakat paham bagaimana ODHA itu tidaklah sepenuhnya melakukan sebuah kesalahan seperti anggapan yang membuat mereka harus dijauhi di lingkungan mereka. Peran lembaga pemerintah seperti kesehatan dan Komisi Penangulangan AIDS (KPA) harus diimbangi dengan peran serta masyarakat untuk menghilangkan stigma yang dibangun kepada ODHA. Keterlibatan seluruh unsur masyarakat seperti tokoh masyrakat dan pemuka agama dalam memberikan motivasi, komunikasi, dan edukasi yang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam upaya pencegahan dan mengurangi reaksi masyarakat terhadap stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS. Penderita HIV/AIDS butuh dukungan dari seluruh unsur masyarakat untuk bisa bangkit secara psikologis dalam menghadapi penyakit mereka bukan untuk menerima diskriminasi yang hanya akan menambah buruk penderitaan yang mereka hadapi.

Daftar Pustaka
Birra, F. A. (2017). Jumlah ODHA Terus Naik, di Indonesia Ada 620 Ribu Orang. JawaPos.com.
Putri, E. N. (2017). Diskriminasi Mayoritas Atas Minoritas Studi dalam Film “99 Cahaya di LAngit Eropa”. digilib UIN-SUKA.
Shaluhiyah, Z., Mustofa, S. B., & Widjanarko, B. (2015). Stigma Masyarakat Terhadap Orang dengan HIV/AIDS. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol 9 No 4, 334.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *