Bagaimana HIV/AIDS Menular?

Bagaimana HIV/AIDS Menular

Bagaimana HIV/AIDS Menular

HIV (Human Immunodeficiency Virus)

Kebanyakan orang akan beranggapan dan takut untuk beberapa hal yang belum mereka ketahui. Seperti halnya ketika pertama kali mendengar “HIV/AIDS”. Banyak yang saya ketahui di  lingkungan, masih sedikit sekali pengetahuan tentang HIV/AIDS dan pada akhirnya terjadi anggapan yang salah di masyarakat. Untuk itu saya akan berbagi sedikit informasi tentang bagaimana HIV itu bisa menular? check this out! :)

CAIRAN PENULARAN HIV/AIDS

Berikut adalah cairan yang sangat berpotensi menularkan virus ini;

1. Darah

Darah memiliki konsentrasi tertinggi virus ini, penularan terjadi dengan terkena darah langsung (jarum suntik yang digunakan bergantian tanpa disterilkan terlebih dahulu, tranfusi darah/produk darah  yang terdeteksi HIV). Perlu dicatat! Seorang pasien berhak mendapatkan jarum suntik yang steril, bahkan berhak meminta dokter/perawat melepas jarum suntik dari bungkusnya di depan mata pasien.

2.  Cairan Kelamin

Konsentrasi virus tertinggi kedua terdapat pada cairan kelamin, di dahului air mani kemudian cairan vagina. Melakukan penetrasi seks tidak aman, tanpa kondom memungkinkan cairan mani atau cairan vagina yang mengandung HIV masuk kedalam tubuh pasangan. Perlu dicatat! Dengan memakai kondom, bukan berarti akan terus-menerus melakukan hubungan seks dengan pengidap AIDS akan aman 100%). Berikut ini fakta yang saya dapat bahwa kondom tidak 100% dapat mencegah penularan HIV/AIDS:

  1. Kondom terbuat dari bahan latex (karet), bahan ini merupakan senyawa hidrokarbon dengan polimerisasi yang berati mempunyai serat dan berpori-pori. Disamping itu karena proses pembuatan pabrik kondom juga memiliki lubang cacat mikroskopis atau  “pinholes”.
  2. Penelitian yang dilakukan oleh Lytle, et. al. (1992) dari Division of Life Sciencies, Rockville, Maryland, USA, membuktikan bahwa penetrasi kondom oleh pertikel sekecil virus HIV/AIDS dapat terdeteksi.
  3. Penelitian yang dilakukan oleh Cary, et. al (1992) dari Division of Pshysicial Sciences, Rockville, Maryland, USA, menemukan       kenyataan bahwa virus HIV/AIDS dapat menembus kondom. Kondom yang beredar di pasaran 30% bocor.
  4. Pernyataan J. Mann (1995) dari Harvard AIDS Institute yang menyatakan bahwa tingkat keamanan kondom (bebas bocor) hanya 70%.
  5. Dalam konferensi AIDS Asia Pasifik di Chiang Mai, Thailand (1995) dilaporkan bahwa pengguna kondom aman tidaklah benar. Pori-pori kondom berdiameter 1/60 mikro dalam keadaan tidak meregang, sedangkan bila dalam keadaaan meregang pori-pori tersebut mencapai 10 kali lebih besar. Sementara kecilnya virus HIV berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian jelas bahwa virus HIV dapat dengan leluasa menembus kondom.
  6. Laporan dari majalah Customer Report (1995) menyatakan bahwa pemeriksaan dengan menggunakan elektron mikroskop dapat dilihat pori-pori kondom yang 10 kali lebih besar dari  virus HIV (Rep.1/11/95).
  7. Pernyataan dari M. Potts (1995), Presiden Family Health Internasional, salah satu pencipta kondom mengakui antara lain bahwa,  “Kami tidak dapat memberitahukan kepada kalayak ramai sejauh mana kondom dapat memberikan perlindungan pada seseorang. Sebab, menyuruh mereka yang telah masuk kedalam kehidupan yang memiliki risiko tinggi (seks bebas dan pelacuran) ini memakai kondom, sama saja artinya menyuruh orang yang mabuk memasang sabuk kelehernya” (Rep. 12/11/95).
  8. Pernyataan dari V. Cline (1995), Profesor Psikologi dari Universitas Utah, Amerika Serikat, menegaskan bahwa memberi                 kepercayaan kepada remaja atas keselamatan berhubungan seksual dengan menggunakan kondom adalah sangat keliru. Jika para remaja percaya bahwa dengan kondom mereka aman dari HIV/AIDS atau penyakit kelamin lainya, berarti mereka telah tersesat (Rep. 12/11/95).
  9. Pernyataan pakar AIDS, R. Smith (1995), telah bertahun-tahun mengikuti ancaman AIDS dan pengguna kondom, mengancam        mereka yang telah menyebarkan safe sex sama saja dengan mengundang kematian”. Selanjutnya beliau mengetengahkan pendapat agar risiko penularan/penyebaran HIV/AIDS diberantas dengan cara menghindari hubungan seksual diluar nikah (Rep.12/11/95)
  10. Di Indonesia pada 1996 yang lalu kondom yang diimpor dari Hongkong ditarik dari peredaran karena 50% bocor.
  11. Tingkat keamanan kondom (bebas kebocoran) di negara-negara berkembang rata-rata hanya 70%. Kondom terbuat dari latex yang peka terhadap sinar (matahari dan lampu), oksigen dan kelembaban. Umur pakai kondom hanya 5 tahun. Dikhawatirkan, banyak kondom yang diimpor dari luar negri yang melewati batas waktunya. Penyimpanan yang tidak hati-hati dapat menyebabkan kondom berjamur, robek bahkan copot sama sekali. Kalau diamati penyimpanan kondom diapotik-apotik yang sering diletakkan di  bawah lampu neon. Keadaan bertambah gawat kalau penyimpanan di gudangnya kurang hati-hati atau kurang teliti misalnya diletakkan di lantai. Namun terdapat fakta yang lebih memprihatinkan, yaitu orang membeli kondom justru di pinggir jalan. Dari berbagai penelitian di Indonesia menunjukan orang membeli kondom di penjual rokok atau jamu atau kios obat kaki lima. Dari 10 orang orang petualang seks 3 orang kemungkinan tidak aman dari serangan HIV/AIDS karena itu seks yang aman adalah hanya dilakukan dengan pasangan yang sah. (Lubis, F.,1996)
  12. Gereja Katolik (Vatikan) menyerukan kepada masyarakat bahwa kondom tidak melindungi seorang dari ketularan virus HIV/AIDS. Selanjutnya sebagaimana dikemuk akan oleh Kim Barnes (2003) dari BBC London, menyatakan bahwa cara terbaik agar terhindar dari virus HIV/AIDS adalah abstinentia, yaitu tidak melakukan hubungan seks di luar nikah.
  13. Alfonso Lopez Trujillo (2003) seorang kardinal senior dari Vatikan yang menyatakan virus HIV/AIDS dapat menembus dinding kondom, kecilnya virus HIV 1/450 lebih kecil dari sperma saja masih bisa menembus lapisan kondom, apalagi virus HIV.

 3. Air Susu

Wanita hamil yang positiv HIV dapat menularkan virus ke bayi selama masa kehamilan, waktu persalinan atau juga melalui menyusui.

Melalui informasi di atas, kita sudah mengetaui tidakan apa yang harus kita ambil. Mengutip dari kata-kata bijak, “Mencegah lebih baik dari pada mengobati” adalah pilihan yang harus diambil. Trmakasih, semoga bermanfaat! :)

source: http://indajournal.blogspot.com/2014/05/bagaimana-hivaids-menular.html http://www.aidsindonesia.or.id/; http://www.temanteman.org/; http://www.voa-islam.com/;

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *